makalah STEM CELL
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Berbagai metode
untuk produksi temak transgenik telah ditemukan dan dikemukakan oleh beberapa
peneliti antara lain transfer gen dengan mikroinjeksi pada pronukleus, injeksi
pada germinal vesikel, injeksi gen kedalam sitoplama, melalui sperma, melalui
virus (sebagai mediator), dengan particke gun (particle bombartmen) dan
embryonic stem cells: Diantara metode yang telah dikemukakan diatas ternyata berkembang
sesuai dengan kemajuan hasil produksi dan
beberapa kelemahan yang dijumpai pada masing-masing metode. Sebagai
contoh produksi ternak transgenik dengan
metode retroviral sebagai mediator gen yang akan diintegrasikan
mulai digantikan dengan metode lain yang
tidak mengandung resiko atau efek samping dari virus/bakteri. Beberapa hasil
penelitian menunjukkan bahwa metode mikroinjeksi DNA pada pronukleus yang
sering dipakai oleh peneliti (Kart, 1989; Bondioli, et. al., 1991; Hill et.
al., 1992 ; Gagne and Sirard, 1995; Kubisch, et. al., 1995;
Han, et. Al, 1996; Su, et. al., 1998).
Produksi ternak transgenik
diperlukan dibidang peternakan. Sebagai contoh pada ternak sapi : panjangnya
interval generasi, jumlah anak yang dihasilkan dan lamanya proses integrasi gen
menjadi tidak efissien bila dilakukan secara konvensional. Oleh karena itu
kebemasilan produksi sapi trangenik sangat diharapkan karena memungkinkan untuk
terjadinya mutasi gen secara tiba-tiba (pada satu generasi) dan lebih terarah
pada gen yang diinginkan. Performans yang diharapkan dari sapi transgenik
adalah sapi yang mempunyai tingkat kesuburan tinggi, efisien dalam pemanfaatan
pakan , kuantitas dan kualitas produksi yang lebih tinggi serta lebih resisten
terhadap penyakit.
Teknologi
pembiakan embrio (pembiakan embrio di cawan petri) sebenarnya sudah lama
berkembang, terutama dalam percobaan-percobaan di laboratorium, dan dilakukan
pada binatang, bahkan di dunia peternakan sudah berkembang sedemikian pesat,
sehingga menghasilkan banyak hewan ternak jenis unggulan, penelitian-penelitian
di bidang ini telah dapat meningkatkan produksi peternakan di mana-mana.
Demikian pula di bidang medis sudah banyak percobaan-percobaan medis di
laboratorium memanfaatkan teknologi ini digunakan untuk memecahkan banyak
masalah pengobatan dengan menggunakan percobaan pembiakan embrio hewan di cawan
petri. Perkembangan teknologi ini mulai menjadi berita besar setelah lahirnya
Luis Brown seorang anak manusia hasil perkawinan yang dilakukan melalui
prosesfertilisasi in vitro di akhir dekade tahun tujuhpuluhan, hasil
teknologi ini mulai mengundang reaksi etika di kalangan rohaniawan, ulama dan
pakar etika.
Teknologi
ESC dan teknologi kloning dengan menggunakan transfer inti menjadi suatu
teknologi yang sangat potensial prospektif untuk aplikasi di bidang kedokteran
dan peternakan. Penemuan teknologi ini membuat para peneliti mendapatkan
inspirasi untuk mengembangkan penelitian-penelitian di bidang ESC dan teknologi
transfer inti serta teknologi rekayasa genetika untuk dapat menyelesaikan
masalah kedokteran yang selama ini manusia seperti pasrah, tanpa bisa mengobatinya,
misalnya beberapa penyakit digeneratif permanen seperti diabetes mellitus,
alzheimer, parkinson, dan penyakit-penyakit kelainan genetis, bahkan penyakit
AIDS. Pada hakekatnya penyakit-penyakit tersebut sudah dianggap penyakit yang
sudah tidak mungkin disembuhkan karena adanya kerusakan permanen dari sel-sel
tubuh manusia. Beberapa peneliti berspekulasi apabila seseorang membutuhkan
transplantasi sumsum tulang belakang untuk menyembuhkan penyakit kankernya,
maka kemungkinan dia untuk mendapatkan donor yang bersedia dan mempunyai
kondisi genetis yang sesuai akan sulit. Kesulitan ini dapat diatasi dengan
menggunakan kombinasi teknologi transfer inti dan rekayasa genetik, dengan
memanfaatkan sel telur yang telah dienukleasi dan digantikan materi genetik yang
sesuai, maka hanya dalam beberapa hari dia akan mendapat stem sel yang sesuai
untuk ditransplasikan kepada pasien tersebut.
Rideout
dan Hochedlinger (2002) menggunakan combine therapeutic
cloning melakukan enukleasi sel telur tikus dan digantikan sel kulit dari
tikus dewasa yang menderita penyakit genetis immuno deficiency.
1.2. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut.
1. Definisi Stem
Cell ?
2.
Perkembangan Teknologo Embrio Stem Cell ?
3. Prospek Pengembangan Embrio Stem Cell ?
4. Stem Cell Dan
Bioetika ?
5. Penggolongan Stem
Cell ?
6. Penggunaan Kultur Stem Cell dalam Bidang Bioteknologi ?
7.
Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Sel Induk (Stem Cell) ?
1.3.Tujuan
Dengan
mengacu pada latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari
penulisan ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui Definisi Stem Cell
2. Untuk
mengetahui Perkembangan Teknologo Embrio
Stem Cell
3. Untuk mengetahui Prospek
Pengembangan Embrio Stem Cell
4. Untuk mengetahui Stem Cell Dan Bioetika
5. Untuk
mengetahui Penggolongan Stem
Cell
6. Untuk mengetahui Penggunaan Kultur Stem Cell dalam Bidang Bioteknologi
7. Untuk
mengetahui Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan (Stem Cell)
1.4.
Manfaat
Manfaat
yang dapat dicapai dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Dapat mengetahui Definisi Stem Cell
2. Dapat
mengetahui Perkembangan Teknologo Embrio
Stem Cell
3. Dapat mengetahui Prospek
Pengembangan Embrio Stem Cell
4. Dapat mengetahui Stem Cell Dan Bioetika
5. Dapat
mengetahui Penggolongan Stem
Cell
6. Dapat mengetahui Penggunaan Kultur Stem Cell dalam Bidang Bioteknologi
7. Dapat
mengetahui Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan (Stem Cell)
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Stem Cell
Stem
cell diperkenalkan sebagai sel-sel “undifferentiated”
karena belum dapat berkembang dan membentuk jaringan atau organ yang lebih
spesifik. Sel punca, sel induk, sel batang (bahasa
Inggris: stem cell) merupakan sel
yang belum berdiferensiasi dan mempunyai potensi
yang sangat tinggi untuk berkembang menjadi banyak jenis sel yang berbeda di
dalam tubuh. Proses perubahan stem
cell menjadi tipe sel yang spesifik dikenal sebagai “differentation”.
Selain berfungsi
untuk membentuk jaringan atau organ yang lebih spesifik, stem cell juga berfungsi sebagai sistem perbaikan untuk mengganti
sel-sel tubuh yang telah rusak demi kelangsungan hidup organisme.
Saat stem cell terbelah, sel yang baru mempunyai potensi untuk tetap
menjadi stem cell atau menjadi sel
dari jenis lain dengan fungsi yang lebih khusus, misalnya sel otot,
sel darah merah
atau sel otak.

Gambar 1. Sifat/karakter sel punca
yaitu differentiate dan self regenerate/renew
Sel Punca mempunyai 2
sifat yang khas yaitu:
1.
Differentiate yaitu kemampuan
untuk berdifferensiasi menjadi sel lain. Sel Punca mampu berkembang menjadi
berbagai jenis sel yang khas (spesifik) misalnya sel saraf, sel otot jantung,
sel otot rangka, sel pankreas dan lain-lain
2.
Self regenerate/self
renew yaitu kemampuan untuk memperbaharui atau
meregenerasi dirinya sendiri. Stem cells mampu membuat salinan sel yang persis
sama dengan dirinya melalui pembelahan sel.
2.2 Perkembangan Teknologo Embrio Stem Cell
Teknologi ESC
berkembang pesat di awal tahun 80-an terutama yang berkaitan dengan
percobaan-percobaan sel-sel tumor. Pada mencit, sel-sel tumor dengan mudah
berkembang biak melalui transplantasi embrio atau sel-sel embrio di bagian extra-uterine.
Percobaan semacam ini sangat bermanfaat untuk menganalisa banyak aspek
diferensiasi sel, maupun biologi perkembangan dan pengobatan tumor pada mamalia
dengan keberhasilan percobaan sangat tinggi (Damjanov dkk,1987). Terilhami dari prospek pengembangan hewan
transgenik yang sangat berguna di bidang
peternakan maupun kedokteran serta penelitian biologi dasar tentang teori
diferensiasi dan proliferasi sel, dan di samping itu tersedianya banyak embrio
tersisa akibat penelitian disertasi saya, sejak tahun 1996 saya mencoba membuat
percobaan Embryonic Stem Cell. Permasalahan utama dalam teknologi ESC
adalah bagaimana caranya menjaga sel-sel ESC tetap mengalami proliferasi tetapi
tidak terjadi diferensiasi. Permasalahan ini didasari sebuah pemikiran bahwa
dalam upaya efisiensi pembuatan hewan transgenik membutuhkan stok ESC cukup
banyak untuk digunakan sebagai sel donor untuk injeksi blastosis dalam
pembuatan hewan transgenik. Diharapkan sel-sel tersebut merupakan sel yang
masih bersifat pluripoten. Saya menyusun kerangka konsep teori untuk mengatur
strategi dalam membiakkan dan mengisolasi sel-sel ES, dengan harapan bahwa ESC
yang saya biakkan tersebut dapat dengan cepat mengalami proliferasi tetapi
tidak terjadi diferensiasi sel. Penyusunan kerangka konsep teori ini di landasi
oleh ketidak berhasilan para peneliti terdahulu terutama dalam membiakkan dan
mengisolasi.
Akhir tahun 1998
John Gearheart seorang peneliti dari Universitas John Hopkin mempublikasikan
hasil riset ESC bahwa teknologi ESC memungkinkan kita dapat membiakkan klon ESC
manusia secara simultan dengan tujuan akhir untuk mendapatkan sel-sel “spare
part”. Pada penelitian ini Gear Heart menggunakan klon ESC manusia (lihat
gambar 1). Sel-sel tersebut dibiarkan melakukan diferensiasasi pada media biak,
dan dapat menghasilkan tipe-tipe sel yang berbeda-beda berupa stem sel neuron, muscle
dan hemapoietic. Sel-sel inilah yang oleh para peneliti disebut sebagai sel-sel
“spare parts”. Meskipun penelitian ini baru penemuan awal dari sebuah
rencana penelitian jangka panjang, tetapi dapat mengilhami banyak peneliti
untuk melakukan penelitian yang lebih besar lagi, terutama bagaimana caranya membiakan sel-sel embrio
tersebut menjadi sel-sel “spare part” tertentu dengan harapan dapat
diaplikasikan dalam transplantasi sel. Hasil penelitian tersebut memang merubah
niat saya untuk mencoba menghambat diferensiasi sel-sel embrio, tetapi justru
dibiarkan sel-sel tersebut berdiferensiasi dan berkembang menjadi berbagai
kemungkinan sel-sel tertentu. Dari hasil penelitian saya, teknologi ini sangat
mungkin dikembangkan di Indonesia (Lihat gambar 2) mengingat sumber daya
peneliti mempunyai potensi untuk mengembangkannya.

Gambar 2. Klon
human ESC hasil penelitian Gear Heart (1998) yang telah
dikembangkan
di USA.

Gambar 3 : Klon
Goat ESC hasil penelitian Djati (2002) yang telah dilakukan di Malang-Indonesia.
2.3 Prospek
Pengembangan Embrio Stem Cell
Teknologi ESC dan
teknologi kloning dengan menggunakan transfer inti menjadi suatu teknologi yang
sangat potensial prospektif untuk aplikasi di bidang kedokteran dan peternakan.
Penemuan teknologi ini membuat para peneliti mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan
penelitian-penelitian di bidang ESC dan teknologi transfer inti serta teknologi
rekayasa genetika untuk dapat menyelesaikan masalah kedokteran yang selama ini
manusia seperti pasrah, tanpa bisa
mengobatinya, misalnya beberapa penyakit digeneratif permanen seperti diabetes
mellitus, alzheimer, parkinson, dan penyakit-penyakit kelainan genetis, bahkan
penyakit AIDS. Pada hakekatnya penyakit-penyakit tersebut sudah dianggap
penyakit yang sudah tidak mungkin disembuhkan karena adanya kerusakan permanen
dari sel-sel tubuh manusia.
2.4 Stem Cell Dan Bioetika
1) ESC (Embryonic Stem Cell) dalam Masalah
Bioetika
ESC
merupakan stem cell yang dapat berdiferensiasi menjadi
berbagai macam jaringan. ESC diambil pada fase zigot menuju blastosit (awal konsepsi).
Setelah dikultur, ESC akan ditransplantasikan ke pasien. Hal ini membuat ESC
berimigrasi ke sel-sel yang degeneratif dan akan berdiferensiasi menjadi
sel-sel yang sebelumnya rusak. Karena proses ESC yang membuat zigot tersebut
mengalami kematian, ESC dinilai keluar dari bioetika kedokteran. Karena prinsip
dari bioetika sendiri adalah tidak boleh menyembuhkan orang dengan cara
membunuh orang lain.
Perkembangan
Teknik ESC (Embryonic Stem Cell) Dalam Masalah Etika
a. Teknik ESC alami
Pada tahap
awal, proses ini identik dengan perkembangan embrio. Setelah terjadi peleburan
inti sel telur dan satu inti sperma, terbentuk zigot dilanjutkan fase morulla.
Fase ini bersifat totipotent. Totipotent terdapat pada zigot yang Kemudian
menuju fase blastosit. Blastosit tersusun dari 2 jenis sel, yakni trofektoderm
di bagian luar yang nantinya menjadi plasenta dan ICN (Inner Cell Mass).
ICN diambil dan diisolasi kemudian ditransplantasikan ke organ-organ
degeneratif. Karena proses pengambilan inilah, embrio tidak dapat berkembang
menjadi matur dan mengalami pembunuhan. Hal ini memicu masalah etika. Walaupun
ada yang menyetujui akan penelitian ESC, namun tidak sedikit pula yang menolak
karena menyalahi prinsip bioetik, yakni tidak boleh menyembuhkan seseorang
dengan cara membunuh orang lain.
Pada
penilaian pihak independen penelitian ESC telah keluar dari batas yang
diberikan. Tidak ada keadilan bagi embrio yang oleh sebagian pihak diyakini
jika embrio bukan termasuk makhluk hidup yang terdiri dari sel-sel namun embrio
merupakan stem cell-stem cell yang menjadikan makhluk hidup.
Namun jika embrio bukan berasal daristem cell, mereka makhluk hidup yang
memiliki stem cell dan sel-sel ini adalah kematian bagi embrio.
b. Teknik SCNT (Somatic Cell Nuclear
Transfer)
Teknik
SCNT merupakan perkembangan dari ESC dan tekniknya sama dengan kloning yaitu
terjadi terjadinya transfer nukleus. perbedaan adalah inti dari sel telur
dihilangkan dan diganti dengan materi genetik dari donor/pasien. Setelah materi
genetik dimasukkan ke dalam enucleated oocyte (inti sel telur
yang dihilangkan), kemudian diberi beberapa bahan kimia dan kejut listrik.
Kultur secara in vitro ini membutuhkan 3-5 hari hingga pada fase blastosit.
Pada fase blastosit inilah, stem cell dari inner cell massdiambil
kemudian ditransplantasikan
Namun
kemajuan dasri ESC menjadi SCNT tidak sinergis dalam segi bioetik. Terutama
Indonesia masih menolak menggunakan embrio. Namun dengan ditemukannya teknik
ini, para peneliti semakin mengembangkan teknik ini dengan tujuan bagaimana
caranya supaya bahan dasar ESC dapat diterima dari aspek bioetik. Scott
Klusenderf menyatakan jika kloning disetujui dalam bioetik maka akan terjadi
pembunuhan karena embrio diciptakan untuk dibunuh dengan tujuan penelitian
medis.
Pendukung penelitian ESC dan SCNT mempunyai cara yang
sedikit buruk demi meyakinkan Negara dengan tujuan disahkannya penelitian
tersebut. Pendukung ESC menyatakan jika embrio hasil /kloning terapeutik ini
bertujuan dalam menemukan solusi penyembuhan, Hal ini dapat menimbulkan empati
dari berbagai pihak. Pendukung ESC tidak mungkin mengatakan jika dengan mereka
melakukan kloning terapeutik, maka harga yang harus dibayar pembunuhan embrio.
Dan proses yang telah dipahami, benar jika penelitian stem cell dengan
bahan dasar embrionik adalah keluar dari batas bioetik karena terdapat unsur
yang dirugikan disini.
c. Teknik ANT (Altered Nuclear
Transfer)
ANT
merupakan perkembangan dari SCNT. Proses tahap awal hampir sama perbedaannya,
sebelum memasukkan materi genetik donor ke oosit tanpa inti, materi genetik
disisipkan RNAi dari pemanfaatan retrovirus. Ternyata dengan adanya RNAi,
embrio tidak terbentuk trofoblas sehingga trofektoderm gagal terbentuk. Dengan
kegagalan pembentukan trofoblas, akan terbentuk embrio yang cacat dan tidak
dapat berimplantasi.
Pendukung
ESC menyatakan jika ANT bebas dari bioetik. Dengan terhambatnya pembentukan
trofoblas, maka tidak akan terbentuk embrio matur karena tahap ANT berhenti
pada fase blastosit tanpa adanya trofektoderm. Banyak pihak dari luar negeri,
baik dari segi agama, hukum, budaya mengiyakan jika ANT terbebas dari etika
karena tidak akan munculnya embrio yang matur, karena yang terbentuk embrio
cacat tanpa trofoblas .
Embryonic Stem Cell sedang memperoleh sorotan masalah etis
paling berat. Ini karena pikiran negatif, misalnya mengambil embrio atau
mematikan embrio. Dan jika bayi tabung yang tidak terpakai lebih baik digunakan
sebagai penelitian ESC daripada dibuang.
Peneliti
ESC menyatakan jika telah ditemukan alternatif yang lebih baik dalam
masalah bioetik yakni ditemukannya sel 8 dari sel embrio. jika dalam embrio
terdapat 8 sel yang mempengaruhi perkembangan embrio dan jika diambil sel 8
pada embrio, tidak terdapat kecacatan pada embrio dan jika terjadi masalah, dapat
dilakukan pengkulturan sel lagi. Hal ini merupakan pemecahan terbaik dalam hal
etika. Namun belum dapat dipastikan persentase keberhasilannya. Sehingga aspek
etika untuk saat ini masih jelas, yakni kurangnya nilai social peneliti dan
belum ada keadilan 100% bagi embrio karena masih dalam penelitian dengan
persentase keberhasilan yang belum diketahui. Peneliti ESC berharap jika
perkembangan dalam peneltian sel 8 dapat tercapai tanpa menimbulkan kecacatan
embrio sehingga masalah etika tidak menjadi momok bagi penelitian ESC.
Peneliti Stem
Cell menyatakan jika penelitian ESC tergolong kuno karena penelitian
tersebut tidak berkembang dalam segi kemanfaatan, karena resikotumoriogenicity walaupun
teknik perkembangan telah ditemukan. jika ESC tidak memiliki batasan untuk
membelah, sehingga hanya sedikit kesalahan dalam penempatan dan kesalahan
penempatan DNA, tumoriogenicity bisa terjadi.
d. ASC (Adult Stem Cell) yang Bebas dari Masalah Etika
Berdasarkan
prinsip bioetika yang menekankan jika dilarang melakukan penelitian dengan cara
membunuh orang lain, maka ASC terbebas dari masalah terbesar yang masih
dihadapi ESC. Masalah yang dihadapi ESC terletak pada sumbernya (embrio), dan
sumber ASC berasal dari tubuh manusia yang tidak menimbulkan kerugian sama
sekali, mungkin terkait dengan GvHD karena HLA yang kurang cocok. Namun hal ini
bukan masalah jika terapi penyembuhan menggunakan ASC yang bersumber dari darah
tali pusat (Umbilical Cord Blood).
ASC memenuhi 7 syarat bioetik dalam melakukan
penelitian. Peneliti dari Amerika merekomendasikan lebih baik menggunakan ASC
karena secara etika tidak bermasalah, keberhasilan ASC lebih tinggi karena
resiko tumor yang sangat tinggi jika menggunakan ESC dan keberhasilan dengan
menggunakan ASC telah banyak dilakukan kepada manusia. Hal ini bertentangan
dengan ESC.
e. Garis Besar Bioetik terhadap
Penelitian Stem Cell
ESC
mendapat sorotan tajam dalam pelanggaran etika, namun juga terdapat yang
menyetujui kelangsungan ESC. ANT merupakan solusi dalam pemecahan etika, namun
terdapat kubu kontra tidak menyetujuinya.
Pendukung ESC terdapat 2 kelompok:
a. Kelompok yang mendukung stemcell
research secara total dan menilai bahwa embryonic stemcells tidak mempunyai
nilai moral. Kelompok ini mendukung semua bentuk stemcell research dan cara
mendapatkan stemcells tersebut.
b. Kelompok yang memberikan nilai moral
kepada embryonic stemcells namun menganggap bahwa manfaat yang didapatkan dari
stemcell research tersebut jauh lebih besar dari pengorbanan yang
dilakukan. Embryo tidak terpakai tersimpan di berbagai klinik bayi tabung.
Banyaknya sisa embryo karena dalam proses pembuatan bayi tabung biasanya 10
sampai 12 sel telur yang dibuahi, tetapi hanya 3 atau 4 saja yang ditanam di
dalam kandungan. Sisa embryo tersebut umumnya akan dibuang, dan lebih
baik digunakan sebagai bahan stemcell research. Dan pembuatan
embrio melalui SCNT kemudian memanen embrio tersebut sebagai bahan stemcell
research.
Sedangkan
pihak yang menolak ESC menyatakan embrio merupakan makhuk hidup yang harus
dihargai kelangsungan hidupnya seperti manusia selayaknya. Embrio buatan
melalui SCNT maupun sisa embrio dari klinik bayi tabung tetap merupakan calon
manusia yang tidak boleh dibunuh atau dirusak. Dalam pelegalan ESC dan jika
berhasil, maka terjadi pembunuhan embrio secara besar-besaran. Dengan jumlah
sisa bayi tabung yang tidak sebanding dengan tingkat kebutuhan, peternakan
embrio maupun aborsi terjadi. Hal ini disebabkan dengan digunakan embrio bukan
dari sisa bayi tabung yang seharusnya dibuang, hal ini identik dengan pelegalan
akan adanya abortus. Dan ESC tetap keluar dari bioetika.
2.5 Penggolongan Stem Cell
Berdasarkan pada
kemampuannya untuk berdifferensiasi sel punca dikelompokkan menjadi:
1.
Totipoten yaitu sel punca yang dapat
berdifferensiasi menjadi semua jenis sel. Yang termasuk dalam sel punca
totipoten adalah zigot dan morula. Sel-sel ini merupakan sel embrionik awal
yang mempunyai kemampuan untuk membentuk berbagai jenis sel termasuk sel-sel
yang menyusun plasenta dan tali pusat. Karenanya sel punca kelompok ini
mempunyai kemampuan untuk membentuk satu individu yang u tuh.

Gambar 4. Sel Punca totipoten dan pluripoten
2.
Pluripoten yaitu sel punca yang dapat
berdifferensiasi menjadi 3 lapisan germinal (ektoderm, mesoderm, dan endoderm)
tetapi tidak dapat menjadi jaringan ekstraembrionik seperti plasenta dan tali
pusat. Yang termasuk sel punca pluripoten adalah sel punca embrionik (embryonic stem cells).
3.
Multipoten yaitu sel punca yang dapat
berdifferensiasi menjadi berbagai jenis sel
misalnya sel punca hemopoetik (hemopoetic
stem cells) yang terdapat pada sumsum tulang yang mempunyai kemampuan untuk
berdifferensiasi menjadi berbagai jenis sel yang terdapat di dalam darah
seperti eritrosit, lekosit dan trombosit. Contoh lainnya adalah sel punca saraf
(neural stem cells) yang mempunyai kemampuan berdifferensiasi menjadi sel saraf
dan sel glia.
4.
Unipotent yaitu sel punca yang hanya dapat
berdifferensiasi menjadi 1 jenis sel. Berbeda dengan non sel punca, sel punca
mempunyai sifat masih dapat memperbaharui atau meregenerasi diri
(self-regenerate/self renew). Contohnya erythroid
progenitor cells hanya mampu berdifferensiasi menjadi sel darah merah.

Gambar 5. Multipotent dan unipotent stem cell pada sumsum tulang
Berdasarkan sel induk yang
ditemukan dalam berbagai jaringan tubuh, maka sel induk dapat digolongkan
menjadi dua golongan yaitu :
1. Sel
induk embrio (embryonic stem cell) adalah sel induk yang diambil dari embrio
pada fase blastosit yang terdiri dari 50-150 sel (berumur 5-7 hari setelah
pembuahan). Pada saat ini massa sel bagian dalam mengelompok dan mengandung
sel-sel induk embrionik. Selanjutnya sel-sel diisolasi dari massa sel bagian
dalam dan dikultur secara in vitro di
laboratorium. Sel induk embrional dapat diarahkan menjadi semua jenis sel yang
dijumpai pada organisme dewasa, seperti sel-sel darah, sel-sel otot, sel-sel
hati, sel-sel ginjal, dan sel-sel lainnya. Embryonic
stem cell biasanya didapatkan dari sisa embrio yang tidak dipakai pada IVF
(in vitro fertilization). Akan tetapi
saat ini telah dikembangkan teknik pengambilan sel induk embrionik (embryonic stem cell) yang tidak
membahayakan embrio tersebut, sehingga dapat terus hidup dan tumbuh. Untuk masa
dapan hal ini mungkin dapat mengurangi kontroversi etis terhadap embryonic stem cell.
![]() |
|
2. Sel
induk dewasa (adult stem cells)
adalah sel induk dewasa yang mempunyai dua karakteristik. Karakteristik pertama
adalah sel-sel tersebut dapat berfroliferasi untuk periode yang panjang untuk
memperbaharui diri. Karakteristik kedua, sel-sel tersebut dapat berdiferensiasi
untu menghasilkan sel-sel khusus yang mempunyai karakteristik morfologi dan
fungsi yang spesial. Salah satu macam
sel induk dewasa adalah sel induk hematopoietik (hematopoietik stem cell), yaitu sel induk pembentuk darah yang
mampu membentuk sel darah merah, sel darah putih, dan keeping darah yang sehat.
Sumber sel induk hematopoietik dapat ditransplantasikan dari beberapa organ
seperti: sumsum tulang, sel darah tepi, dan darah tali pusar.
·
Transplantasi sel induk dari sumsum tulang (bone marrow transplantation). Sumsum
tulang adalah jaringan spons yang terdapat dalam tulang-tulang besar seperti
tulang pinggang, tulang dada, tulang punggung dan tulang rusuk. Sumsum tulang
merupakan sumber yang kaya akan sel induk hematopoietik. Sejak dilakukan
pertama kali kira-kira 30 tahun yang lalu, transplantasi sumsum tulang
digunakan sebagai bagian dari pengobatan leukemia, limfoma jenis tertentu, dan
anemia aplastik. Karena teknik dan angka keberhasilannya semakin meningkat,
maka pemakaian transplantasi sumsum tulang sekarang ini semakin meluas. Pada
transplantasi ini prosedur yang dilakukan cukup sederhana, yaitu biasanya dalam
keadaan teranastesi total. Sumsum tulang (sekitar 600 cc) diambil dari tulang panggul
donor dengan bantuan sebuah jarum suntik khusus, kemudian sumsum tulang itu
disuntikkan ke dalam vena resipien. Sumsum tulang donor berpindah dan menyatu
di dalam tulang resipien dan sel-selnya mulai berfroliferasi. Pada akhirnya,
jika semua berjalan lancar, seluruh sumsum tulang resipien akan tergantikan
dengan sumsum tulang yang baru. Namun, prosedur transplantasi sumsum tulang
memiliki kelemahan karena sel darah putih resipien telah dihancurkan oleh
terapi radiasi dan kemoterapi. Sumsum tulang yang baru memerlukan waktu sekitar
2-3 minggu untuk menghasilkan sejumlah sel darah putih yang diperlukan guna
melindungi resipien terhadap infeksi. Transplantasi sel induk dari sumsum
tulang (bone marrow transplantation).
·
Transplantasi
sel induk darah tepi (peripheral blood stem cell transplantation) seperti
halnya sumsum tulang, peredaran darah tepi merupakan sumber sel induk walaupun
jumlah sel induk yang dikandung tidak sebanyak pada sumsum tulang. Untuk
mendapatkan jumlah sel induk yang jumlahnya mencukupi untuk suatu
transplantasi, biasanya pada donor diberikan granulosyte coloni stimulating factor (G-CSF) untuk menstimulasi
sel induk hematopoietik bergerak dari sumsum tulang ke peredaran darah.
Transplantasi ini dilakukan dengan proses yang disebut aferesis. Jika resipien membutuhkan sel induk hematopoietik, pada proses
ini darah lengkap diambil dari donor dan sebuah mesin akan memisahkan darah
menjadi komponen-komponennya, secara selektif memisahkan sek induk dan
mengembalikan sisa darah ke donor. Transplantasi sel induk darah tepi pertama
kali berhasil dilakukan pada tahun 1986. Keuntungan transplantasi sel induk
darah tepi adalah lebih mudah didapat. Selain itu pengambilan sel induk darah
tepi tidak menyakitkan dan hanya membutuhkan sekitar 100cc. Keuntungan lain sel
induk darah tepi lebih mudah tumbuh. Namun, sel induk darah tepi lebih rentang
tidak setahan sumsum tulang. Sumsum tulang juga lebih lengkap, selain
mengandung sel induk juga ada jaringan penunjang untuk pertumbuhan sel. Karena
itu, transplantasi sel induk darah tepi tetap perlu dicampur dengan sumsum tulang.
·
Transplantasi sel induk darah tali pusat. Pada
tahun 1970-an para peneliti menemukan bahwa darah plasenta manusia mengandung
sel induk yang sama dengan sel induk yang ditemukan dalam sumsum tulang. Karena
sel induk dalam sumsum tulang telah berhasil mengobati pasien-pasien dengan
penyakit-penyakit kelainan darah yang mengancam jiwa seperti leukemia dan
gangguan-gangguan sistem kekebalan tubuh, maka para peneliti percaya bahwa
mereka juga dapat menggunakan sel induk dari darah tali pusat untuk menyelamatkan
jiwa pasien mereka. Darah tali pusat mengandung sel induk yang bermakna dan
memiliki keunggulan diatas transplantasi sel induk dari sumsum tulang atau dari
darah tepi bagi pasien-pasien tertentu. Transplantasi sel induk dari darah tali
pusat telah mengubah bahan sisa dari proses kelahiran menjadi suatu sumber yang
dapat menyelamatkan jiwa. Transplantasi sel induk darah tali pusat pertama kali
dilakukan di Prancis pada penderita anemia fanconi tahun 1988 pada tahun 1991,
darah tali pusat di transplantasikan pada penderita Chronic Myelogenous
Leukimia. Kedua trasnplantasi ini berhasil dengan baik. Sampai saat ini telah
dilakukan kira-kira tiga ribu transplantasi darah tali pusat.
![]() |
Gambar 7.
Transplantasi sel induk darah tali pusat
2.6 Penggunaan Kultur Stem Cell dalam Bidang Bioteknologi
Stem cell dapat digunakan untuk
keperluan baik dalam bidang riset maupun pengobatan. Adapun penggunaan kultur stem cell adalah sebagai berikut:
2.6.1 Pemanfaatan Stem
Cell Dalam Riset
1. Terapi gen
a.
Stem cell (dalam hal ini hematopoietic stem cell) digunakan sebagai
alat pembawa transgen ke dalam tubuh pasien dan selanjutnya dapat dilacak
jejaknya apakah stem cell ini berhasil mengekspresikan gen tertentu
dalam tubuh pasien. Dan karena stem cell mempunyai sifat self-renewing,
maka pemberian pada terapi gen tidak perlu dilakukan berulang-ulang, selain itu
hematopoietic stem cell juga dapat berdiferensiasi menjadi
bermacam-macam sel, sehingga transgen tersebut dapat menetap di berbagai macam
sel.
b.
Mengetahui proses biologis, yaitu
perkembangan organisme dan perkembangan kanker. Melalui stem cell dapat dipelajari
nasib sel, baik sel normal maupun sel kanker.
c.
Penemuan dan pengembangan obat
baru, yaitu untuk mengetahui efek obat terhadap berbagai jaringan.
d.
Terapi sel (cell based therapy)
e.
Stem cell dapat hidup diluar tubuh
manusia, misalnya di cawan petri. Sifat ini dapat digunakan untuk melakukan
manipulasi pada stem cells yang akan
ditransplantasikan ke dalam organ tubuh untuk menangani penyakit-penyakit tertentu
tanpa mengganggu organ tubuh.
Ada beberapa
alasan mengapa stem cell merupakan calon yang bagus dalam cell-based
therapy:
·
Stem cell tersebut dapat diperoleh dari pasien itu sendiri. Artinya
transplantasi dapat bersifat autolog sehingga menghindari potensi rejeksi.
Berbeda dengan transplantasi organ yang membutuhkan organ donor yang sesuai (match),
transplantasi stem cell dapat dilakukan tanpa organ donor yang
sesuai.
·
Mempunyai kapasitas proliferasi
yang besar sehingga dapat diperoleh sel dalam jumlah besar dari sumber yang
terbatas. Misalnya pada luka bakar luas, jaringan kulit yang tersisa tidak
cukup untuk menutupi lesi luka bakar yang luas. Dalam hal ini terapi stem
cell sangat berguna.
·
Mudah dimanipulasi untuk mengganti
gen yang sudah tidak berfungsi lagi melalui metode transfer gen. Hal ini telah
dijelaskan dalam penjelasan mengenai terapi gen di atas.
·
Dapat bermigrasi ke jaringan target
dan dapat berintegrasi ke dalam jaringan serta berinteraksi dengan jaringan
sekitarnya.
2.6.2 Penggunaan Stem Cell Dalam Pengobatan Penyakit
Para ahli saat ini sedang giat melakukan
berbagai penelitian untuk menggunakan stem cell dalam mengobati berbagai
penyakit. Penggunaan stem cell untuk mengobati penyakit dikenal sebagai Cell Based Therapy. Prinsip terapi yang dimaksud adalah
dengan melakukan transplantasi stem cell pada organ yang rusak. Tujuan dari
transplantasi stem cell ini adalah sebagai berikut.
a.
Mendapatkan pertumbuhan dan perkembangan
sel-sel baru yang sehat pada jaringan atau organ tubuh pasien.
b.
Menggantikan sel-sel spesifik yang rusak
akibat penyakit atau cidera tertentu dengan sel-sel baru yang
ditranspalantasikan.
Sel induk embrio (Embryonic stem cell) sangat plastik dan
mempunyai kemampuan untuk dikembangkan menjadi berbagai macam jaringan sel
seperti neuron, kardiomiosit, osteoblast, fibroblast, sel-sel darah dan
sebagainya, sehingga dapat dipakai untuk menggantikan jaringan yang rusak. Sel
induk dewasa (adult stem cells) juga dapat digunakan untuk
mengobati berbagai penyakit degeneratif, tetapi kemampuan plastisitasnya sudah
berkurang. Keuntungan dari penggunaan sel stem dewasa yaitu tidak atau kurang
menimbulkan masalah dan kontroversi etika.
1.
Penggunaan sel punca embrionik untuk
mengobati cidera pada medula spinalis (spinal
cord)
Cidera pada medula
spinalis disertai demielinisasi menyebabkan hilangnya fungsi neuron. Sel punca dapat
mengembalikan fungsi yang hilang dengan cara melakukan remielinisasi. Percobaan
dengan sel punca embrionik tikus dapat menghasilkan oligodendrosit yang kemudian dapat menyebabkan
remielinisasi akson yang rusak.
2. Penggunaan sel punca pada penyakit stroke
Pada penyakit stroke dicoba untuk menggunakan sel punca mesenkim (mesenchymal stem cell) dari sumsum
tulang autolog. Penelitian ini didasarkan pada hasil penelitian yang telah
dilakukan sebelumnya. Mesenchymal stem cells diperoleh dari aspirasi sumsum
tulang. Setelah disuntikkan perifer MSC akan melintas sawar darah otak pada
daerah otak yang rusak. Pemberian MSC intravenous akan mengurangi terjadinya
apoptosis dan menyebabkan proliferasi sel endogen setelah terjadinya stroke.
3. Penggunaan sel punca dalam pengobatan diabetes
Pada diabetes, terjadi kekurangan insulin atau kurangnya kepekaan
terhadap insulin. Dalam hal ini transplantasi sel pulau Langerhans diharapkan
dapat memenuhi kebutuhan insulin. Pada awalnya, kira-kira 10 tahun yang lalu,
hanya 8% transplantasi sel pulau Langerhans yang berhasil. Hal ini terjadi
karena reaksi penolakannya besar sehingga diperlukan sejumlah besar steroid;
padahal makin besar steroid yang dibutuhkan, makin besar pula kebutuhan
metabolik pada sel penghasil insulin. Namun, baru-baru ini penelitian yang
dilakukan oleh James Shapiro dkk. di Kanada, berhasil membuat protokol
transplantasi sel pulau Langerhans dalam jumlah banyak dengan metode
imunosupresi yang berbeda dengan yang sebelumnya. Pada penelitian tersebut,
100% pasien yang diterapi transplantasi sel pulau Langerhans pankreas tidak
memerlukan injeksi insulin lagi dan gula darahnya tetap normal setahun setelah
transplantasi. Penelitian-penelitian yang sudah dilakukan untuk diabetes ini
mengambil sumber stem cell dari kadaver, fetus, dan dari embryonic stem cell.
Selanjutnya, masih dibutuhkan penelitian untuk menemukan cara membuat kondisi
yang optimal dalam produksi insulin, sehingga dapat menggantikan injeksi
insulin secara permanen.
4.
Penggunaan
sel punca untuk skin
replacement
Dengan bertambahnya pengetahuan mengenai stem cell, maka peneliti telah dapat
membuat epidermis dari keratinosit yang diperoleh dari folikel rambut yang
dicabut. Hal ini memungkinkan transplantasi epidermis autolog, sehingga
menghindari masalah penolakan. Pemakaian skin
replacement ini bermanfaat dalam terapi ulkus vena ataupun luka bakar.
5.
Penggunaan
sel punca dalam penyakit Parkinson
Pada penyakit Parkinson, didapatkan kematian
neuron-neuron nigra-striatal, yang merupakan neuron dopaminergik. Dopamin
merupakan neurotransmiter yang berperan dalam gerakan tubuh yang halus. Dengan
berkurangnya dopamin, maka pada penyakit Parkinson terjadi gejala-gejala
gangguan gerakan halus. Dalam hal ini transplantasi neuron dopamin diharapkan
dapat memperbaiki gejala penyakit Parkinson. Tahun 2001, dilakukan penelitian dengan
menggunakan jaringan mesensefalik embrio manusia yang mengandung neuron-neuron
dopamin. Jaringan tersebut ditransplantasikan ke dalam otak penderita Parkinson
berat dan dipantau dengan alat PET (Positron Emission Tomography). Hasilnya
setelah transplantasi terdapat perbaikan dalam uji-uji standar untuk menilai
penyakit Parkinson, peningkatan fungsi neuron dopamin yang tampak pada
pemeriksaan PET; perbaikan bermakna ini tampak pada penderita yang lebih muda.
Namun setelah 1 tahun, 15% dari pasien yang ditransplantasi ini kambuh setelah
dosis levodopa dikurangi atau dihentikan.
6. Penggunaan sel punca dalam pengobatan HIV
Pada awalnya pengobatan HIV/AIDS ditemukan tidak sengaja
dalam pengobatan penyakit leukemia dengan sistem stem sel. Dimana HIV/AIDS
menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga tubuh menjadi rentan terhadap
gangguan virus atau penyakit. Dengan sel punca maka sel-sel yang mengalami
degradasi akan tergantikan sehingga kekebalan tubuh pengidap akan berangsur
pulih. Namun setelah itu terjadi mutasi gen yang mengakibatkan sel darah
menjadi resisten terhadap virus HIV.
Mutasi tersebut terjadi pada reseptor yang dikenal sebagai
CCR5, yang secara normal ditemukan pada permukaan T cell – sel pada sistem
kekebalan tubuh yang diserang oleh virus HIV. Gen yang telah bermutasi tersebut
dikenal sebagai CCR5 delta 32, dan ditemukan pada 1% - 3% populasi orang kulit
putih di Eropa.
Virus HIV menggunakan CCR5 sebagai co-reseptor untuk merusak
sistem kekebalan tubuh. Sejak CCR5 bermutasi menjadi CCR5 delta 32, virus HIV
tidak lagi mampu menyerang sel sehingga terjadi kekebalan tubuh alami pada
orang yang mengalami mutasi gen.
1.7 Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Sel
Induk (Stem Cell)
Dalam penggunaannya stem cell
memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan antara lain:
1. Penggunaan sel induk embrionik (embryonic stem cell) pada terapi sel.
·
Kelebihan penggunaan sel induk
embrionik antara lain:
a. Mudah didapatkan, biasanya dapat diperoleh dari klinik fertilitas.
b. Bersifat pluripotent artinya mempunyai kemampuan untuk
berdifferensiasi menjadi berbagai macam sel yang merupakan turunan ketiga lapis
germinal (ektoderm, mesoderm dan endoderm), tetapi tidak dapat membentuk
selubung embrio.
c. Immortal artinya dapat berumur panjang sehingga dapat memperbanyak
diri ratusan kali pada media kultur.
d. Reaksi penolakan tehadap imunitas rendah.
·
Kekurangan penggunaan sel induk
embrionik adalah:
1. Dapat bersifat karsinogenik artinya setiap kontaminasi dengan sel
yang tidak berdifferensiasi dapat menimbulkan kanker.
2. Selalu bersifat allogenik yaitu sel induk yang diambil berasal
dari pendonor yang cocok, umumnya keluarga atau orang lain yang cocok sehingga
berpotensi menimbulkan terjadinya rejeksi immunitas.
3. Secara kode etik masih kontroversial, di mana yang menjadi
kontroversi dalam penggunaan stem
cell embrio yakni sumber sel tersebut (embrio). Pengklonan embrio manusia
untuk memperoleh stem cell menimbulkan kontroversi karena pengklonan
manusia tersebut ditentang oleh semua agama, hal ini dikarenakan adanya
anggapan bahwa embrio berstatus sama dengan manusia menyebabkan hal tersebut
tidak dapat diterima. Selain itu status moral embrio, apakah embrio harus
diperlakukan sebagai manusia atau sebagai sesuatu yang berpotensi untuk menjadi
manusia atau sebagai jaringan hidup tubuh lainnya masih menjadi kontroversi.
2. Penggunaan sel induk dewasa (adult
stem cell)
·
Kelebihan penggunaan sel induk
dewasa adalah:
a. Dapat diperoleh dari sel pasien sendiri sehingga dapat menghindari
terjadinya penolakan imun.
b. Sel induk dewasa sudah terspesialisasi sehingga induksi menjadi
lebih sederhana.
c. Penggunaan sel induk dewasa tidak terlalu menimbulkan problem
etika.
·
Kekurangan dari penggunaan sel
induk dewasa antara lain:
a. Sel induk dewasa ditemukan dalam jumlah kecil di 12 tempat yang
berbeda dalam tubuh (otak, darah, kornea, retina, jantung, lemak, kulit, daerah
gigi, pembuluh darah pada sumsum tulang belakang, otot tengkorak, dan usus). sehingga sulit mendapatkan sel induk dewasa dalam jumlah
banyak.
b. Masa hidupnya tidak selama sel induk embrionik.
c. Bersifat multipotent, yaitu dapat berdiferensiasi menjadi
lebih dari satu macam sel sehingga differensiasi
tidak seluas sel induk embrionik yang bersifat pluripotent.
3. Penggunaan sel induk dari darah tali pusat.
·
Kelebihan penggunaan sel induk dari
darah tali pusat adalah:
a. Mudah diperoleh, karena sudah tersedia di bank darah tali pusat.
b. Siap pakai, karena telah melalui proses prescreening, testing dan pembekuan.
c. Kontaminasi virus sangat minimal dibandingkan dengan sel induk
yang berasal dari sumsum tulang.
d. Cara pengambilannya mudah, tidak beresiko dan menyakiti donor.
·
Kekurangan penggunaan sel induk
dari darah tali pusat adalah:
a. Kemungkinan terkena penyakit genetik. Ada beberapa penyakit
genetik yang terdeteksi saat lahir sehingga diperlukan pengamatan setelah donor
meningkat menjadi dewasa.
b.
Jumlah sel induk relatif terbatas
sehingga ada ketidaksesuaian antara jumlah sel induk yang diperlukan resipien
dengan jumlah yang tersedia dari donor.
2.7 Aplikasi
Stem Cell Dalam Bidang Peternakan
Therapeutic Cloning
Therapeutic
cloning atau yang lebih panjangnya disebut SCNT (Somatic Cell Nuclear Transfer) adalah suatu teknik yang
bertujuan untuk menghindari risiko penolakan/rejeksi. Pada therapeutic cloning, inti sel telur
donor dikeluarkan dan diganti dengan inti sel resipien misalnya diambil dari
sel mukosa pipi. Lalu sel ini akan membelah diri dan setelah menjadi blastocyst, maka inner cell massnya akan diambil
sebagai embryonic stem cell dan
setelah dimasukkan kembali ke dalam tubuh resipien maka stem cell tersebut akan berdiferensiasi menjadi sel organ yang
diinginkan (misalnya sel beta pankreas, sel otot jantung, dan lain lain), tanpa
reaksi penolakan karena sel tersebut mengandung materi genetik resipien.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Berdasarkan
pembahasan diatas, maka dapat diambil beberapa simpulan yaitu sebagai berikut.
1.
Sel Punca atau stem cell adalah sel yang tidak/belum terspesialisasi dan mempunyai
kemampuan/potensi untuk berkembang menjadi berbagai jenis sel-sel yang spesifik
yang membentuk berbagai jaringan tubuh.
2.
Berdasarkan pada kemampuannya untuk
berdifferensiasi sel punca dikelompokkan menjadi: totipoten, pluripoten,
multipoten, unipotent. Sedangkan berdasarkan sel induk yang
ditemukan dalam berbagai jaringan tubuh, sel induk dapat digolongkan menjadi
dua golongan yaitu : Sel induk embrio (embryonal
stem cell) dan Sel induk dewasa (adult
stem cells).
3.
Pemanfaatan stem cell dalam bioteknologi yakni
digunakan dalam riset dan dalam pengobatan penyakit. Pemanfaatan stem cell dalam riset adalah untuk terapi gen, engetahui proses biologis, yaitu
perkembangan organisme dan perkembangan kanker, penemuan dan pengembangan obat
baru dan terapi sel (cell based therapy).
Sedangkan penggunaan stem cell dalam pengobatan penyakit, yaitu untuk mendapatkan pertumbuhan dan
perkembangan sel-sel baru yang sehat pada jaringan atau organ tubuh pasien dan
untuk menggantikan sel-sel spesifik yang rusak akibat penyakit atau cidera
tertentu dengan sel-sel baru yang ditranspalantasikan.
4.
Dalam penggunaan stem cell tentu saja terdapat kelebihan dan kekurangan, secara umum
dapat dijelaskan sebagai berikut. Keuntungannya yaitu stem cell mudah didapatkan, stem
cell mempunyai kemampuan untuk berdifferensiasi menjadi
berbagai macam sel. Sedangkan kekurangannya adalah adanya kemungkinan terkena penyakit genetik pada sel induk tali
pusat, secara kode etik penggunaan stem
cell masih kontroversial khususnya dalam penggunaan sel induk embrionik.
3.2
Saran
Saran yang dapat kami ajukan dalam
penyusunan makalah ini adalah sebaiknya isi dari makalah ini dapat dipahami
dengan baik sehingga dapat bermanfaat bagi kita semua.


Do you realize there's a 12 word phrase you can communicate to your man... that will induce intense feelings of love and impulsive attraction to you buried within his chest?
BalasHapusThat's because deep inside these 12 words is a "secret signal" that triggers a man's instinct to love, please and look after you with his entire heart...
12 Words Will Fuel A Man's Love Impulse
This instinct is so hardwired into a man's mind that it will drive him to work better than ever before to do his best at looking after your relationship.
In fact, fueling this all-powerful instinct is absolutely essential to having the best possible relationship with your man that the instance you send your man one of the "Secret Signals"...
...You will soon notice him expose his soul and mind to you in a way he's never expressed before and he will recognize you as the only woman in the galaxy who has ever truly tempted him.